Senin, 12 Oktober 2026
Tangerang, oC

Disdik Kota Tangerang Siapkan Langkah Evaluasi dan Pencegahan Kekerasan Pelajar Pascainsinden Siswa SMPN 34

Senin, 12 Oktober 2026 11:06 WIB
81
Share
SMPN 34 Kota Tangerang di Jl. HR. Rasuna Said, Cipete, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Senin (12/10/26). (Sumber : Diskominfo Kota Tangerang) (ALWAN ARDIANSYAH)

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tangerang menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya dua siswa SMPN 34 Kota Tangerang.

Pemerintah Kota Tangerang bersama pihak sekolah menegaskan, insiden maut yang terjadi di kawasan Jalan Sutera Alam Sutera tersebut bukanlah aksi tawuran, melainkan murni insiden pengejaran oleh oknum pelajar bersenjata tajam saat korban hendak pulang menonton pertandingan futsal persahabatan, pada Jumat (9/10/26).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Wahyudi Iskandar menegaskan, kedua almarhum merupakan suporter pertandigan futsal persahabatan.

Saat perjalanan pulang, korban berpapasan dengan rombongan oknum siswa yang membawa senjata tajam.

"Perlu kami tegaskan, ini bukanlah peristiwa tawuran. Korban melarikan diri karena panik dikejar oleh oknum yang membawa senjata tajam, hingga akhirnya kendaraan yang dikendarai menabrak trotoar dan tiang. Peristiwa ini menjadi mitigasi dan pengingat penting bagi kita semua untuk terus menguatkan budaya sekolah aman dan nyaman," ujar Wahyudi.

Disdik Kota Tangerang akan memperketat langkah pencegahan dengan memantapkan sinergi bersama TNI, Polri dan masyarakat guna memperluas pengawasan di luar jam sekolah.

"Di dalam budaya sekolah aman dan nyaman itu disyaratkan peran semesta, yaitu keterlibatan dari semua stakeholder baik sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar untuk berpartisipasi aktif menciptakan kondisi yang aman," tegasnya.

"Kami juga menghimbau kepada adik-adik semua, cukupkan sampai di sini, tidak perlu memperpanjang persoalan ini, tidak perlu ada dendam," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 34 Kota Tangerang, Asep Maulana Hidayat, menjelaskan pihak sekolah telah bergerak cepat sejak malam kejadian untuk mendampingi keluarga korban, memfasilitasi doa bersama/tahlilan, serta meredam emosi para siswa agar tidak terjadi aksi anarkis.

"Kami sudah edarkan imbauan, untuk kelas 9 wajib diantar jemput orang tua dan jangan diizinkan pulang sebelum dijemput. Sementara kelas 7 dan 8 melaksanakan PJJ di rumah dengan pemantauan ketat dari orang tua," katanya.

Ia juga menaruh perhatian penuh pada pemulihan trauma siswa. Satu orang siswa selamat yang menjadi saksi kunci kejadian saat ini mendapatkan pendampingan psikologis dan konseling dari guru Bimbingan Konseling (BK) sekolah.

"Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Kami memohon kerja sama para orang tua untuk memastikan pengawasan ketat terhadap aktivitas anak setelah jam sekolah. Terkait proses hukum terhadap oknum pelaku, sepenuhnya kami serahkan kepada pihak kepolisian," pungkas Asep.