Pemerintah terus mendorong pelestarian warisan budaya leluhur agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang. Salah satunya melalui workshop pembuatan Tje Nap, tradisi masyarakat Tionghoa peranakan Cina Benteng yang sarat dengan nilai filosofi dan makna kehidupan, di Hotel Great Western Resort, Kota Tangerang, Minggu (1/11/26).
Kegiatan ini digagas oleh Yayasan Cide Kode Benteng dengan dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Banten melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan. Workshop tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus regenerasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal dan mempelajari tradisi pembuatan Tje Nap.
Penggiat Budaya Cina Benteng, Ko Acong, menjelaskan bahwa Tje Nap merupakan bagian dari tradisi leluhur yang digunakan dalam berbagai upacara keagamaan masyarakat Tionghoa, termasuk upacara pernikahan maupun perkabungan. Tje Nap juga menjadi simbol persembahan yang mengandung doa dan harapan kepada Tuhan.
Menurutnya, Tje Nap memiliki filosofi yang tercermin melalui tiga jenis buah yang menghiasi bagian atasnya, yakni buah pepaya, buah atep, dan buah kinkit. Ketiganya melambangkan harapan tentang kesuksesan, kekayaan, kejayaan, serta kehidupan yang langgeng dan tenteram.
"Tradisi membuat papan Tje Nap ini sudah mulai terancam punah karena tidak banyak lagi orang yang bisa mengerjakannya. Melalui workshop ini, kami ingin generasi muda bisa mempelajari proses pembuatannya, memahami filosofi, dan menjadi bagian dari pelestari budaya Cina Benteng," ujar Acong.
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut juga melampaui target awal. Dari target 50 peserta, pendaftaran workshop berhasil menjaring 80 peserta. Capaian ini menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat untuk mengenal lebih jauh warisan budaya leluhur yang masih dijaga oleh komunitas Cina Benteng.
Acong menambahkan, tradisi Tje Nap telah diwariskan sejak ribuan tahun lalu dan juga dikenal di sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Namun, Tje Nap dalam tradisi Cina Benteng memiliki kekhasan tersendiri, terutama pada penggunaan tiga jenis buah yang memiliki filosofi khusus.
”Kedepan, pelestarian Tje Nap diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui kegiatan edukasi dan pelatihan. Yayasan Cide Kode Benteng juga membuka peluang bagi masyarakat maupun komunitas pendidikan yang tertarik untuk mempelajari tradisi tersebut, sehingga semakin banyak generasi muda yang mampu menjaga keberlangsungan warisan budaya leluhur,” tuturnya.
Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Banten, Rennisa Anggraeni, mengatakan, fasilitasi tersebut merupakan bagian dari dukungan pemerintah dalam mendorong pemajuan kebudayaan melalui kolaborasi dengan komunitas dan pegiat budaya.
Ia menilai keterlibatan generasi muda dalam kegiatan ini menjadi langkah penting agar tradisi leluhur tidak hanya dikenal sebagai pengetahuan sejarah, tetapi juga tetap dipraktikkan dan diwariskan secara turun-temurun.
"Ini merupakan salah satu bentuk warisan budaya yang ingin kita berikan kepada generasi muda. Kita ingin terus memberikan yang terbaik untuk kebudayaan. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi yang akan menjaga kebudayaan ini," ungkap Rennisa.