Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kesehatan berkolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Tangerang menghadirkan Rumah Sehat BAZNAS Sahabat Paru. Program ini menjadi salah satu upaya untuk membantu penanganan pasien tuberkulosis (TBC), khususnya pasien TBC resistan obat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni, mengatakan Rumah Sehat BAZNAS Sahabat Paru disiapkan sebagai tempat tinggal sementara bagi pasien TBC resistan obat yang kondisinya stabil. Tempat ini menyediakan tiga kamar dengan kapasitas masing-masing dua pasien.
"Jadi satu pasien ini dirawat di sini selama dua minggu dan diberi obat selama dua minggu," ujar dr. Dini.
Selama berada di Rumah Sehat BAZNAS Sahabat Paru, pasien mendapatkan pendampingan untuk memastikan pengobatan berjalan secara teratur. Petugas kesehatan dan kader turut melakukan pendampingan, dengan petugas dari puskesmas yang bertugas secara bergantian.
Menurut Dini, mekanisme layanan dimulai dari fasilitas kesehatan. Pasien TBC resistan obat yang mendapatkan layanan klinis di rumah sakit dapat dirujuk untuk menjalani masa pendampingan selama 14 hari di Rumah Sehat BAZNAS Sahabat Paru.
RSUD Kota Tangerang menjadi salah satu rumah sakit yang memberikan layanan klinis bagi pasien TBC resistan obat. Selain itu, pasien juga dapat berasal dari rumah sakit lain yang menangani kasus TBC resistan obat, termasuk RS Sitanala dan rumah sakit rujukan lainnya.
"Jadi dari rumah sakit nanti ada rujukan ke sini untuk pengobatan selama dua minggu," kata Dini.
”Pasien juga mendapatkan pendampingan dari tenaga medis dan dukungan dokter spesialis. Dinkes Kota Tangerang melibatkan dokter spesialis paru serta organisasi profesi terkait dalam mendukung penanganan TBC,” sambungnya.
Sementara itu, Wakil Ketua II BAZNAS Kota Tangerang, Danni Budianto, mengatakan Rumah Sehat BAZNAS Sahabat Paru merupakan bentuk kolaborasi antara BAZNAS dan Dinas Kesehatan Kota Tangerang dalam bidang kesehatan.
Dalam kolaborasi tersebut, BAZNAS berperan dalam pembiayaan program. Sementara Dinas Kesehatan berperan dalam proses rekrutmen dan seleksi penerima manfaat, termasuk pendampingan obat-obatan.
"Ini pemberdayaan. Ini perlu waktu, tapi ada improvement-nya," kata Danni.