Minggu, 14 Juni 2026
Tangerang, oC

Kisah Pelarian Etnis Cina Benteng di Balik Nama Kedaung Wetan

Kamis, 11 Juni 2026 14:17 WIB
85
Share
Kantor Kelurahan Kedaung Wetan Jl. AMD Manunggal X, RT.004/RW.004, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten. (Sumber : Diskominfo Kota Tangerang) (ALWAN ARDIANSYAH)

Setiap nama kampung di Kota Tangerang pasti punya cerita uniknya sendiri. Lewat buku Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang karya Burhanudin, sejarah lokal ini diceritakan kembali dengan menarik. Salah satu yang paling seru untuk disimak adalah kisah Kelurahan Kedaung Wetan di Kecamatan Neglasari. Daerah yang dikenal sekarang, dulunya menjadi tempat pelarian penting bagi warga Cina Benteng sejak abad ke-18.

Buku karya Burhanudin mencatat, bahwa nama wilayah Kedaung berkaitan erat dengan peristiwa tahun 1740, saat etnis Cina di Batavia melakukan perlawanan terhadap VOC demi menghindari penangkapan massal.

"Para pengungsi etnis Cina terpaksa melarikan diri menyusuri aliran Kali Cisadane untuk menyelamatkan diri dari pembantaian dan ancaman kerja paksa di Sri Lanka oleh VOC," terangnya.

Dalam keterangannya, daerah pedalaman seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, Kampung Melayu, Teluk Naga hingga Kedaung menjadi tempat perlindungan para pengungsi, yang kemudian berkembang menjadi komunitas Cina Benteng di Tangerang.

Secara administratif, Kedaung Wetan awalnya masuk ke dalam wilayah Kecamatan Batuceper. Namun, seiring dengan pemekaran wilayah Kota Tangerang pada tahun 2001, dibentuklah Kecamatan Neglasari, tempat Kelurahan Kedaung Wetan bernaung saat ini.

"Nama Kedaung Wetan berasal dari banyaknya pohon kedaung atau sejenis tumbuhan polong-polongan di wilayah ini. Sementara penambahan kata 'Wetan' di belakang 'Kedaung' karena lokasi kampung ini berada di sebelah timur," tulis Burhanudin.

Ia memaparkan, karakter pohon kedaung sebagai pelindung tanaman lain di habitatnya menjadi simbol filosofis bagi semangat kebersamaan warga Tangerang yang heterogen.

"Penelusuran asal-usul Kedaung Wetan ini, menjadi pengingat berharga bahwa ruang tempat kita tinggal hari ini dibangun di atas fondasi perjuangan, akulturasi budaya yang kuat, serta keharmonisan bersama alam yang wajib dirawat," sambungnya.