Kamis, 04 Juni 2026
Tangerang, oC

Menengok Akar Sejarah Kota Tangerang dari Batas Wilayah hingga Keragaman Budaya

Kamis, 04 Juni 2026 16:27 WIB
131
Share
Foto udara Kantor Kelurahan Sukasari yang berlokasi di Jl. Mt. Haryono, Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Provinsi Banten. (Sumber : Diskominfo Kota Tangerang) (ALWAN ARDIANSYAH)

Sebagai salah satu kota metropolitan, Kota Tangerang hari ini dicirikan oleh laju industrialisasi, gedung-gedung menjulang dan mobilitas masyarakat yang tinggi. Namun, di balik wajah urban tersebut, setiap sudut wilayah di Tangerang menyimpan memori kolektif yang tertanam kuat pada penamaan kampung-kampung tuanya.

Menurut Burhanudin dengan buku yang berjudul Asal Muasal Tangerang, sejarah lokal mencatat bahwa dinamika wilayah ini merupakan hasil dari akulturasi budaya, aktivitas agraris dan strategi pertahanan masa lampau.

Nama Tangerang berasal dari bahasa Sunda, tengger (tanda) dan perang. Istilah ini merujuk pada tugu pembatas wilayah (tangger) setinggi 5 teng yang didirikan oleh Pangeran Soegiri di barat Sungai Cisadane (kini Kampung Gerendeng) pada pertengahan abad ke-17, sebagai penanda batas kedaulatan antara Kesultanan Banten dan VOC.

"Masyarakat semula menyebut daerah ini Tanggeran. Namun, karena tentara kompeni asal Makassar yang ditempatkan VOC setelah Perjanjian 1684 tidak terbiasa mengeja huruf mati di akhir kata, mereka melafalkannya menjadi Tangerang. Ejaan salah pelafalan inilah yang diwariskan hingga resmi dipakai secara administratif pada masa pendudukan Jepang, 27 Desember 1943," terangnya.

Menurutnya, sejarah pembentukan kampung-kampung tua di Tangerang merekam erat bagaimana penamaan sebuah wilayah ditentukan oleh kondisi alam, vegetasi dan asal-usul komunitasnya. Wilayah dengan awalan "Ci" seperti Cipondoh dan Cibodas menandakan kawasan bekas rawa atau sumber air agraris, sementara area bantaran Sungai Cisadane seperti Kali Pasir, Babakan, Sukasari, dan Gerendeng tumbuh menjadi pusat interaksi ekonomi antar-etnis.

"Akulturasi budaya yang harmonis antara masyarakat lokal Betawi dan Sunda dengan etnis Tionghoa atau Cina Benteng di kawasan Sewan dan Mekarsari telah berlangsung sejak awal abad ke-15. Proses inilah yang pada akhirnya melahirkan identitas budaya khas Tangerang, seperti Barongsai dan Festival Cisadane," jelasnya.

Lebih lanjut, kawasan-kawasan yang kini menjadi pusat keramaian, industri dan perumahan padat seperti Karawaci, Cibodas, Poris, hingga Batuceper, dahulunya merupakan wilayah kosong yang terletak di luar batas Kota Tangerang.

"Dahulu kawasan itu didominasi perkebunan singkong, karet dan sawah yang luas. Bahkan kompleks LP yang sekarang di tengah kota, dulunya sengaja dibangun di area pinggiran terjauh karena pusat Kota Tangerang saat itu hanya membentang dari Jalan Kisamaun hingga Daan Mogot," ungkapnya.