Kamis, 08 Januari 2026
Tangerang, oC

Cegah DBD di Sekolah, Puskesmas Batusari Gandeng Pelajar SMAN 14 Tangerang Jadi Jumantik

Selasa, 06 Januari 2026 22:47 WIB
48
Share
Cegah DBD di Sekolah, Puskesmas Batusari Gandeng Pelajar SMAN 14 Tangerang Jadi Jumantik (Sumber : Pemkot Tangerang) (Kontributor)

Puskesmas Batusari, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, mengambil langkah proaktif dalam menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di lingkungan pendidikan.

Melalui program inovatif, pihak puskesmas melibatkan puluhan pelajar SMA Negeri 14 Tangerang untuk menjadi Juru Pemantau Jentik (Jumantik) mandiri di sekolah mereka.

Sebanyak 34 pelajar yang tergabung dalam Palang Merah Remaja (PMR) resmi bertugas setelah mendapatkan pelatihan khusus dari petugas kesehatan. Mereka melakukan penyisiran ke seluruh penjuru sekolah guna memastikan tidak ada wadah air yang menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, Selasa (06/01/26).

Nyamuk Aedes aegypti dikenal berkembang biak di air bersih yang tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Oleh karena itu, para siswa menyasar lokasi-lokasi spesifik seperti kantin sekolah, lahan belakang sekolah, ruang kelas dan sekitar musala.

Langkah preventif ini diambil menyusul adanya laporan sejumlah siswa maupun tenaga pengajar yang terdeteksi menderita DBD, yang diduga kuat tertular di area sekolah.

Penanggung Jawab DBD Puskesmas Batusari, Adiyaksa menjelaskan, rekrutmen tim kesehatan dari unsur pelajar ini bertujuan untuk memutus rantai habitat nyamuk secara berkelanjutan.

"Kami merekrut 34 siswa dari tim PMR sebagai Jumantik Sekolah. Sasaran utamanya adalah mencari jentik nyamuk di air bersih. Program ini sebenarnya sudah direncanakan sejak akhir 2025 dan mulai efektif dilaksanakan secara serentak pada Januari 2026 ini," ujar Adiyaksa.

Ia juga menambahkan bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan mengingat siklus peningkatan penderita DBD biasanya terjadi pada musim penghujan, mulai dari November, Desember hingga Maret.

Ketua PMR SMAN 14 Tangerang Salsabila Azka mengungkapkan, timnya sangat antusias menjalankan tugas ini. Hingga saat ini, mereka telah melakukan penyisiran sebanyak empat kali dengan sistem koordinasi yang rapi.

"Kami sudah membuat denah dengan tujuh titik sasaran utama, mulai dari area kelas X, XI, dan XII hingga ke sudut-sudut kantin dan musala. Manfaatnya sangat terasa karena di sekolah ini sempat banyak yang terkena DBD. Dengan adanya kegiatan ini, kami jadi lebih disiplin dan peduli terhadap kebersihan lingkungan," kata Salsabila.

Diharapkan, keterlibatan aktif para pelajar sebagai agen perubahan ini mampu meminimalkan penyebaran nyamuk Aedes aegypti secara signifikan, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan bebas dari ancaman penyakit mematikan.