Kamis, 04 Juni 2026
Tangerang, oC

Pemkot Tangerang Gelar Pelatihan AI dan Sosialisasi Laksa Plus bagi Disabilitas, Tingkatkan Literasi Digital Inklusif

Kamis, 04 Juni 2026 11:18 WIB
127
Share
Foto bersama Kegiatan Pelatihan Literasi Digital bagi Disabilitas di Ruang Patio Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Provinsi Banten Kamis (4/6/26). (Sumber : Diskominfo) (MUHAMMAD FIRDAUS SULAIMAN)

Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) menggelar pelatihan optimalisasi mesin pencari (search engine) dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) bagi penyandang disabilitas.

Selain itu, Diskominfo juga menyosialisasikan fitur ramah disabilitas pada aplikasi pelayanan publik Tangerang LIVE yakni Laksa Plus di Patio Puspem Kota Tangerang, Kamis (4/6/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh 60 peserta ini berkolaborasi dengan BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital (Kementerian KomDigi) serta Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS).

Kepala Dinas Kominfo Kota Tangerang Mugiya Wardhany menjelaskan, pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk mendongkrak indeks literasi digital Kota Tangerang, sekaligus memastikan teman-teman disabilitas terlibat aktif dalam perkembangan teknologi modern.

"Pelatihan ini juga menjadi ruang bagi kami untuk menerima langsung masukan terkait pengalaman pengguna mereka saat mengakses aplikasi layanan publik kami," ujarnya.

Pemkot Tangerang juga bersinergi dengan BPSDM Kementerian KomDigi untuk memaksimalkan peran Pandu Literasi termasuk melibatkan figur disabilitas untuk memberikan edukasi inklusif dari dan untuk sesama disabilitas.

"Selain literasi AI, fokus utama kegiatan ini adalah penguatan simpul jaringan pengaduan inklusif melalui fitur disabilitas di aplikasi Laksa Plus. Program yang masif diperkenalkan sejak September 2025 ini, dirancang agar ramah akses bagi kelompok rentan," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pengelola Ruang Kendali Kota Diskominfo Kota Tangerang Iqbal Santoso menyatakan, membangun aplikasi saja tidak cukup, melainkan harus dibarengi dengan pembangunan ekosistemnya.

"Tentu masih banyak PR ke depan karena aplikasi saja tidak cukup, kita harus membangun ekosistemnya. Komitmen awal kami adalah menyamakan kesadaran di seluruh perangkat daerah agar tindak lanjut laporan masyarakat disabilitas berjalan optimal dan berkeadilan," tutur Iqbal.

Ia menyambut baik masukan para peserta dan menyatakan bahwa ke depannya pelatihan literasi digital akan dilakukan secara spesifik berdasarkan masing-masing ragam disabilitas agar materi yang disampaikan lebih efektif dan sesuai kebutuhan.

"Pendekatan inklusif harus sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Ke depan, kami berencana menyelenggarakan pelatihan serupa dengan modul yang sama, namun audiensnya dikelompokkan khusus agar penyerapan materi jauh lebih efektif," tambahnya.

Manfaat nyata dari aplikasi Laksa Plus dirasakan langsung oleh Abdul Aziz, seorang warga disabilitas tunanetra asal Kecamatan Cibodas Baru. Ia mengapresiasi aksesibilitas aplikasi Laksa Plus yang dinilai sangat ramah bagi pengguna pembaca layar (screen reader).

"Saya sangat berterima kasih atas adanya inovasi Laksa Plus ini. Tidak semua aplikasi pemerintahan itu aksesibel untuk tunanetra yang membutuhkan pembaca layar, tapi alhamdulillah Laksa Plus ini semuanya terbaca dengan baik," ungkap Abdul.

"Harapan saya ke depan, respons terhadap aduan bisa ditingkatkan lebih cepat lagi agar apa yang kami aspirasikan segera terealisasi," tutupnya.