Menjelang bulan suci Ramadan sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Kota Tangerang, Masjid Agung Al-Ittihad menggelar perhelatan khidmat bertajuk "Ruwahan Agung dan Haul Akbar Masyayikh Tangerang Raya", Sabtu (14/02). Acara ini menjadi momentum istimewa yang memadukan doa bersama dengan pengumuman wajah baru arsitektur ikonik kota.
Ketua Panitia Ruwahan Agung dan Haul Akbar Masyayikh Tangerang Raya Mohammad Farhan mengungkapkan, bahwa kegiatan ini merupakan bentuk ekspresi kegembiraan masyarakat dalam menyambut bulan suci.
"Acara pada hari ini adalah bentuk sukacita dan kegembiraan kita menyambut bulan suci Ramadan, sekaligus merayakan hari ulang tahun kota yang ke-33. Kami dari DKM Masjid Agung Al-Ittihad mengajak seluruh jajaran masyarakat untuk bersama-sama bergembira memasuki bulan Ramadan melalui kegiatan keagamaan," ujarnya.
Ia menjelaskan, bahwa rangkaian acara diisi dengan khataman Al-Qur'an sebanyak 33 kali selaras dengan usia kota, serta zikir, tahlil dan tawasul. Doa tersebut dikirimkan khusus untuk para arwah almarhum Masyayikh Tangerang Raya, para pendiri Tangerang, serta ribuan warga.
"Alhamdulillah, hampir 2.000 nama arwah didaftarkan oleh masyarakat dalam penyelenggaraan ini untuk kita doakan bersama. Selain doa, kami juga mengadakan makan siang bersama dan salat Zuhur berjemaah," tambah Farhan.
Selain aspek religi, acara ini menjadi panggung pengumuman pemenang Sayembara Revitalisasi Desain Masjid Agung Al-Ittihad yang diselenggarakan oleh Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pertahanan Kota Tangerang. Sayembara ini diikuti oleh sekitar 150 peserta, termasuk talenta dari ITB, Trisakti, hingga peserta dari Malaysia.
Andhi Seto Prasetyo pemenang Juara 1 kategori umum menjelaskan, bahwa desainnya mengusung konsep akulturasi yang menyatukan unsur budaya Sunda, Betawi, dan Tionghoa ke dalam wujud arsitektur modern.
"Desain yang kami hadirkan lahir dari sosial budaya yang melekat di Tangerang. Kami mewujudkan akulturasi tiga suku tersebut sebagai representasi identitas kota," sambungnya.
"Harapannya, desain ini bisa diimplementasikan sebagai pionir bangunan yang merespons akar budaya lokal," ungkap Andhi.
Acara yang berlangsung hangat ini, diakhiri dengan pesan kolaborasi kuat antara pemerintah, masyarakat, dan nilai-nilai budaya demi mewujudkan Kota Tangerang yang berkelanjutan.