Sabtu, 31 Januari 2026
Tangerang, oC

Menelusuri Jejak Sejarah Pabuaran Tumpeng: Dari Tradisi Ziarah Hingga Jejak Para Naib

Kamis, 29 Januari 2026 15:37 WIB
45
Share
(Arsip) Kelurahan Pabuaran Tumpeng, Kec. Karawaci, Kota Tangerang, Banten. (Sumber : Dinas Kominfo Kota Tangerang) (IMAM DWI SAPUTRA)

Kota Tangerang menyimpan sejuta kisah di balik penamaan kampung-kampungnya yang unik. Salah satu yang menarik perhatian adalah Kelurahan Pabuaran Tumpeng di Kecamatan Karawaci. Melalui catatan Burhanudin dalam bukunya yang berjudul “Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang”, terungkap bahwa nama wilayah ini lahir dari perpaduan sejarah pembukaan lahan dan tradisi religi yang kental.

Secara historis, nama "Pabuaran" berakar dari istilah ber-babu-ara, yang berarti aktivitas membuka lahan baru. Pada masa itu, pusat Kota Tangerang sudah mulai padat, sehingga masyarakat bergerak mencari wilayah baru untuk bermukim. Semangat kemandirian dalam membuka lahan inilah yang kemudian mengabadikan nama Pabuaran di beberapa titik di Tangerang.

Dalam buku tersebut, Burhanudin menjelaskan bahwa nama Pabuaran secara umum merujuk pada aktivitas masyarakat tempo dulu yang disebut ber-babu-ara.

"Istilah ini menggambarkan upaya warga yang mulai membuka lahan baru di pinggiran kota karena pusat Kota Tangerang sudah tidak mampu lagi menampung ledakan jumlah penduduk," terangnya.

Namun, yang membuat wilayah ini unik adalah tambahan nama 'Tumpeng' di belakangnya. Nama ini ternyata tidak lepas dari keberadaan makam keramat seorang penyebar agama Islam di kawasan tersebut.

Berdasarkan penuturan saksi sejarah dalam buku itu, terdapat syarat unik bagi siapa pun yang ingin melakukan ziarah ke makam yang berlokasi di dekat wilayah Panarub tersebut.

"Kalau asal Pabuaran Tumpeng, karena ada seorang penyebar agama Islam, dan di situ ada makam keramat. Itu orang Tangerang kalau ziarah ke situ, si kuncennya itu suka minta tumpeng," ungkapnya.

Menurutnya, tradisi membawa nasi tumpeng ini menjadi kesepakatan antara juru kunci dan peziarah demi kelancaran prosesi ziarah.

"Kalau ke sini bawa tumpeng. Saya juga ngalamin bawa tumpeng. Di situ ada dua keramat dekat Panarub (sekarang) dan dua-duanya harus membawa tumpeng sebagai syaratnya," katanya.

Selain kisah tentang tumpeng, wilayah ini juga memiliki kampung bernama Pabuaran Kenaiban. Penamaan ini diambil dari banyaknya warga setempat yang berprofesi sebagai naib atau penghulu di bawah naungan Kementerian Agama. Tokoh utama di kampung tersebut adalah KH. Ali yang merupakan seorang naib, diikuti oleh generasi setelahnya.

"Disebut Pabuaran Kenaiban karena banyak naib di situ. KH Ali itu naib, ayahnya KH Masduki juga naib, anaknya KH Masduki juga naib. Jadi di situ banyak naib, karyawan Departemen Agama," pungkasnya.

Kini, wilayah yang membentang dari samping pom bensin hingga Blok Mede tersebut tetap menyandang nama Pabuaran Kenaiban sebagai penghormatan terhadap dedikasi para tokoh agama di wilayah tersebut.