Istilah “superflu” belakangan ini ramai diperbincangkan masyarakat seiring meningkatnya kasus influenza musiman di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, dr. Yumelda Ismawir Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kota Tangerang memberikan penjelasan medis agar masyarakat tidak salah memahami dan tidak mudah panik.
Menurut dr. Yumelda Ismawir, istilah superflu bukanlah nama resmi penyakit atau virus baru. Istilah ini muncul di tengah meningkatnya penularan influenza musiman yang disebabkan oleh virus influenza A (H3N2) subclade K.
“Varian ini sebenarnya masih termasuk keluarga besar virus influenza A H3N2 yang sudah lama dikenal dan terus dipantau oleh sistem surveilans global, termasuk WHO,” jelas dr. Yumelda, Rabu (14/1/26).
Meskipun penyebarannya meningkat, hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa varian ini lebih berbahaya dibandingkan influenza musiman sebelumnya. Hingga saat ini, kasus ini pun belum ditemukan di Kota Tangerang.
”Berdasarkan data epidemiologi dan penilaian WHO, tingkat keparahan penyakit ini tidak jauh berbeda dari flu musiman biasa,” katanya.
Lanjutnya, secara klinis, superflu menunjukkan gejala yang mirip dengan flu biasa. Seperti, demam tinggi, batuk dan pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala dan nyeri otot, hingga tubuh terasa lemas.
“Virus influenza menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Penularan juga bisa terjadi dari permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung, mulut, atau mata,” jelas dr. Yumelda.
Dr. Yumelda Ismawir mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada dan menerapkan pola hidup sehat.
“Informasi yang benar dan pencegahan yang konsisten adalah kunci untuk melindungi diri dan lingkungan sekitar,” tutupnya.
Meskipun kondisi masih terkendali, Kementerian Kesehatan RI dan tenaga medis tetap mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan berikut:
1. Imunisasi Influenza Tahunan
Vaksin influenza dianjurkan terutama bagi ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit penyerta untuk mengurangi risiko sakit berat dan rawat inap.
2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
• Rutin mencuci tangan dengan sabun
• Menerapkan etika batuk dan bersin
• Menggunakan masker saat sakit
• Menghindari menyentuh wajah dengan tangan kotor
• Istirahat cukup dan konsumsi gizi seimbang
3. Tetap di Rumah Saat Sakit
Masyarakat disarankan tidak beraktivitas di luar rumah saat demam atau batuk guna mencegah penularan.
4. Konsultasi ke Fasilitas Kesehatan
Segera periksa ke dokter jika muncul gejala berat seperti sesak napas atau tanda pneumonia.